Google+ Followers

Senin, 11 Februari 2013

makalah farmakologi (obat analgesik, kardiovaskuler, anastesi. opioid)


BAB I
PENDAHULUAN

1.1    LATAR BELAKANG
Obat yang ada saat ini masih jauh dari ideal. Tidak ada obat yang memenuhi semua kriteria obat ideal, tidak ada obat yang aman, semua obat menimbulkan efek samping, respon terhadap obat sulit diprediksi dan mungkin berubah sesuai dengan hasil interaksi obat, dan banyak obat yang mahal, tidak stabil, dan sulit diberikan. Karena banyak obat tidak ideal, semua anggota tim kesehatan harus berlatih “care” untuk meningkatkan efek terapeutik dan meminimalkan kemungkinan bahaya yang ditimbulkan obat.
Sebagai salah satu dari tim medis perawat seyogyanya telah paham betul akan pemanfaatan obat yang bertujuan memberikan manfaat maksimal dengan tujuan minimal. Dan berikut ini adalah peran perawat dalam pengobatan :
Mengkaji kondisi pasien
Sebagai pemberi layanan askep, dalam pemberian obat.
Mengobservasi kerja obat dan efek samping obat.
Memberikan pendidikan kesehatan tentang indikasi obat dan cara penggunaannya.
Sebagai advokat atau melindungi klien dari pengobatan yang tidak tepat.

1.2    TUJUAN PENULISAN
         Makalah ini disusun dengan tujuan :
1.Untuk Memenuhi tugas SP Mata Kuliyah Farmakologi
2.Untuk Mengetahui Hubungan Farmakologi dengan Keperawatan
3.Untuk Menambah Ilmu Pengetahuan Farmakologi


BAB II
ISI

2.1    Obat Analgesik – Antipiretik
Obat saraf dan otot golongan analgesik atau obat yang dapat menghilangkan rasa sakit/ obat nyeri sedangkan obat antipiretik adalah obat yang dapat menurunkan suhu tubuh. Analgesik sendiri dibagi dua yaitu :
1.   Analgesik opioid / analgesik narkotika Analgesik opioid merupakan kelompok obat yang memiliki sifat-sifat seperti opium atau morfin. Golongan obat ini terutama digunakan untuk meredakan atau menghilangkan rasa nyeri. Tetap semua analgesik opioid menimbulkan adiksi/ketergantungan, maka usaha untuk mendapatkan suatu analgesik yang ideal masih tetap diteruskan dengan tujuan mendapatkan analgesik yang sama kuat dengan morfin tanpa bahaya adiksi.
Ada 3 golongan obat ini yaitu :
1.   Obat yang berasal dari opium-morfin,
2.   Senyawa semisintetik morfin, dan
3.   Senyawa sintetik yang berefek seperti morfin.
2.   Analgesik lainnya, Seperti golongan salisilat seperti aspirin, golongan para amino fenol seperti paracetamol, dan golongan lainnya seperti ibuprofen, asam mefenamat, naproksen/naproxen dan banyak lagi.
Berikut contoh obat-obat analgesik antipiretik yang beredar di Indonesia :

Merupakan derivat para amino fenol. Di Indonesia penggunaan parasetamol sebagai analgesik dan antipiretik, telah menggantikan penggunaan salisilat. Sebagai analgesik, parasetamol sebaiknya tidak digunakan terlalu lama karena dapat menimbulkan nefropati analgesik. Jika dosis terapi tidak memberi manfaat, biasanya dosis lebih besar tidak menolong. Dalam sediaannya sering dikombinasi dengan cofein yang berfungsi meningkatkan efektivitasnya tanpa perlu meningkatkan dosisnya.
Indikasi:
Nyeri ringan sampai sedang termasuk dysmenorrhea, sakit kepala; pereda nyeri pada osteoarthritis dan lesi jaringan lunak; demam termasuk demam setelah imunisasi; serangan migren akut, tension headache
Kontraindikasi : Gangguan fungsi hati berat, hipersensitif terhadap paracetamol
Perhatian : Gangguan hati; gangguan ginjal; ketergantungan alkohol
2.   Ibuprofen
Ibuprofen merupakan derivat asam propionat yang diperkenalkan banyak negara. Obat ini bersifat analgesik dengan daya antiinflamasi yang tidak terlalu kuat. Efek analgesiknya sama dengan aspirin. Ibuprofen tidak dianjurkan diminum oleh wanita hamil dan menyusui.
Indikasi: analgesic dan anti inflamasai rheumatoid
Kontra indikasi : asma, tukak lambung, wanita hamil trimester 1, hiersensivitas.
Efek : mual, muntah, diare, kostipasi, nyeri dan rasa panas di epigastrum
Dosis :
Oral: Dewasa             : 1200 – 1800 mg/ hr Dibagi 3 – 4 (maks 2.400 mg/hr)
Anak > 30 Kg BB     : 20 mg/ kg BB/ hr
Anak < 30 kg BB      : maks 500 mg/ hr
PO                             : Berikan segera sesudah makan



Asam mefenamat digunakan sebagai analgesik. Asam mefenamat sangat kuat terikat pada protein plasma, sehingga interaksi dengan obat antikoagulan harus diperhatikan. Efek samping terhadap saluran cerna sering timbul misalnya dispepsia dan gejala iritasi lain terhadap mukosa lambung.
Indikasi :
Sakit kepala, sakit gigi, nyeri otot tulang , nyeri karena luka, nyeri setelah operasi, nyeri setelah melahirkan, dismenore, nyeri reumatik, nyeri tulang belakang, demam.

kontra indikasi :
Ulserasi sampai inflamasi saluran cerna, peny. ginjal atau hati, hipersensitif, tukak lambung.

Efek samping :
Mual, muntah, diare, iritasi lambung, pusing-using dan gangguan penglihatan.

4.   Tramadol
Tramadol adalah senyawa sintetik yang berefek seperti morfin. Tramadol digunakan untuk sakit nyeri menengah hingga parah. Sediaan tramadol pelepasan lambat digunakan untuk menangani nyeri menengah hingga parah yang memerlukan waktu yang lama. Minumlah tramadol sesuai dosis yang diberikan, jangan minum dengan dosis lebih besar atau lebih lama dari yang diresepkan dokter. Jangan minum tramadol lebih dari 300 mg sehari.
Indikasi : Pengobatan nyeri akut dan kronik yang berat, nyeri pasca op. Ketergantungan obat dan opium, sensitif terhadap tramadol atau opiat, mendapat terapi MAOI, intoksikasi akut dengan alkohol, hipnotik, analgesik, atau obat yang mempengaruhi system syaraf pusat dan yang lainya.



Kontra indikasi : tidak dianjurkan pada wanita hami dan menyusui.

Efek samping : pusing, sedasi, lelah, sakit kepala pruritus, berkeringat, kulit kemerahan, mulut kering, mual, muntah, dyspepsia, obstipasi


Dosis :
Dewasa & anak > 16 thn 50 mg dosis tunggal, dapat ditingkatkan 50 mg ssdh selang waktu 4-6 jam. Maks : 400 mg /hr. Pasien gangguan hati dan ginjal (bersihan kreatin <30 mL/mnt) 50-100 mg tiap 12 jam , maksimal : 200 mg/hr. Sirosis hati 50 mg/12 jam
PO : Diberikan bersama atau tanpa makanan
5.   Benorylate
Benorylate adalah kombinasi dari parasetamol dan ester aspirin. Obat ini digunakan sebagai obat antiinflamasi dan antipiretik. Untuk pengobatan demam pada anak obat ini bekerja lebih baik dibanding dengan parasetamol dan aspirin dalam penggunaan yang terpisah. Karena obat ini derivat dari aspirin maka obat ini tidak boleh digunakan untuk anak yang mengidap Sindrom Reye.
6.   Fentanyl
Fentanyl termasuk obat golongan analgesik narkotika. Analgesik narkotika digunakan sebagai penghilang nyeri. Dalam bentuk sediaan injeksi IM (intramuskular) Fentanyl digunakan untuk menghilangkan sakit yang disebabkan kanker. Menghilangkan periode sakit pada kanker adalah dengan menghilangkan rasa sakit secara menyeluruh dengan obat untuk mengontrol rasa sakit yang persisten/menetap. Obat Fentanyl digunakan hanya untuk pasien yang siap menggunakan analgesik narkotika. Fentanyl bekerja di dalam sistem syaraf pusat untuk menghilangkan rasa sakit. Beberapa efek samping juga disebabkan oleh aksinya di dalam sistem syaraf pusat. Pada pemakaian yang lama dapat menyebabkan ketergantungan tetapi tidak sering terjadi bila pemakaiannya sesuai dengan aturan.
Ketergantungan biasa terjadi jika pengobatan dihentikan secara mendadak. Sehingga untuk mencegah efek samping tersebut perlu dilakukan penurunan dosis secara bertahap dengan periode tertentu sebelum pengobatan dihentikan.


7.   Naproxen
Naproxen termasuk dalam golongan antiinflamasi nonsteroid. Naproxen bekerja dengan cara menurunkan hormon yang menyebabkan pembengkakan dan rasa nyeri di tubuh.
8.   Obat lainnya
Metamizol, Asirin (asetosal / asam asetil salisilat), Dyprone / Methamipron, Floctafenine, Novaminsulfonicum dan Sufentanil.
Aspirin
Indikasi : untuk meringankan rasa sakit, terutama sakit keala dan pusing, sakit gigi dan nyeri otot serta menurunkan demam
Kontra indikasi :
Penderita tukak lambung dan peka terhadap derivat asam salisilat, penderita asma, dan alergi. Penderita yang pernahatau sering mengalami pendarahan bawah kulit, penderita yang sedang terapi dengan antikoagulan, penderita hemofolia dan trombositopenia
Deskripsi:
Aspirin menghambat pengaruh dan biosintesa dari pada zat-zat yang menimbulkan rasa nyeri dan demam (prostaglandin). Daya kerja antipiretik dan analgetik dari pada Aspirin diperkuat oleh pengaruh langsung terhadap susunan saraf pusat.

Neuralgin
Indikasi:
Meringankan rasa nyeri pada sakit kepala, sakit kepala pada migrain, nyeri otot, sakit gigi dan nyeri haid.

2.2    Obat kardiovaskuler dan diuretik
Obat kardiovaskuler, 9 sub kelas :
1.Obat inotropik positif
2.Obat anti-aritmia
3.Obat antihipertensi
4.Obat anti-angina
5.Diuretik
6.Obat sistem koagulasi darah
7.Obat hipolipidemik
8.Obat untuk syok dan hipotensi
9.Obat untuk gangguan sirkulasi darah.
1.   Obat inotropik positif (anti gagal jantung )
·      Obat inotropik positif bekerja dengan meningkatkan kontraksi otot jantung(miokardium).
·      Indikasi : gagal jantung, keadaan jantung gagal untuk memompa darah dalam volume yang dibutuhkan tubuh. Keadaan tersebut terjadi karena jantung bekerja terlalu berat (kebocoran katup jantung, kekakuan katub, atau kelainan sejak lahir di mana sekat jantung tidak terbentuk dengan sempurna ) atau karena suatu hal otot jantung menjadi lemah.
Ada 2 jenis obat inotropik positif, yaitu :
·      Glikosida jantung adalah alkaloid yang berasal dari tanaman Digitalis purpureayang kemudian diketahui berisi digoksin dan digitoksin.
·      Penghambat fosfodiesterase merupakan penghambat enzim fosfodiesterase yang selektif bekerja pada jantung. Hambatan enzim ini menyebabkan peningkatan kadar siklik AMP (cAMP) dalam sel miokard yang akan meningkatkan kadar kalsium intrasel.
·      Contoh : Milrinon ,  Aminiron

2. Obat-obat antiaritmia
Obat-obat antiaritmia dapat dibagi berdasar penggunaan kliniknya untuk :
·      aritmia supraventrikel misal : adenosin, verapamil, digoxin
·      aritmia supraventrikel dan aritmia ventrikel misal : disopiramid, beta bloker
·      aritmia ventrikel misal : lidokain, meksiletin
3. Obat antihipertensi
·      Sering digunakan obat yang melebarkan pembuluh darah (vasodilator), yang bisa melebarkan arteri, vena atau keduanya.
·      Pelebar arteri akan melebarkan arteri dan menurunkan tekanan darahsehingga mengurangi beban kerja jantung.
·      Pelebar vena akan melebarkan vena dan menyediakan ruang yang lebih untuk darah yang telah terkumpul dan tidak mampu memasuki bagian kanan jantung sehingga mengurangi penyumbatan dan mengurangi beban jantung
Contoh vasodilator :
Paling banyak digunakan adalah ACE-inhibitor (Angiotensin Converting Enzyme inhibitor). Efek pada pembuluh darah :
·      ACE-inhibitor :  melebarkan arteri & vena
·      Nitroglycerin   :  hanya melebarkan vena
·      Hydralazine      : hanya melebarkan arteri
4. Obat-obat antiangina
·      Sebagian besar pasien angina pektoris ( nyeri dada ) diobati dengan beta-bloker atau antagonis kalsium.
·      Meskipun demikian, senyawa nitrat kerja singkat, masih berperan penting untuk tindakan profilaksis sebelum kerja fisik dan untuk nyeri dada yang terjadi sewaktu istirahat.


a.    Golongan nitrat
·      merelaksasi otot polos pembuluh vena, menyebabkan alir balik vena berkurang sehingga mengurangi beban hulu jantung.
·      merupakan vasodilator koroner yang poten
·      contoh : ISDN ( Isosorbid dinitrat )

b.   Golongan antagonis kalsium
·      Antagonis kalsium bekerja dengan cara menghambat influks ion kalsium transmembran, yaitu mengurangi masuknya ion kalsium melalui kanal kalsium lambat ke dalam sel otot polos, otot jantung dan saraf.
·      Berkurangnya kadar kalsium bebas di dalam sel-sel tersebut menyebabkan berkurangnya kontraksi otot polos pembuluh darah (vasodilatasi), kontraksi otot jantung (inotropik negatif), serta pembentukan dan konduksi impuls dalam jantung (kronotropik dan dromotropik negatif).
·      Contoh :  Diltiazem , Nifedipin
c.    Golongan beta-bloker
·      Menghambat adrenoseptor beta (beta-bloker) di jantung, pembuluh darah perifer, bronkus, pankreas & hati.
·      Beta-bloker dapat mencetuskan asma dan efek ini berbahaya. Karena itu, harus dihindarkan pada pasien dengan riwayat asma atau Penyakit Paru Obstruktif Kronis.
·      Contoh : Propranolol
5. Diuretik
·      Sering sebagai kombinasi obat jantung
·      Fungsi : mengurangi penimbunan cairan, menambah pembentukan air kemih, membuang natrium dan air dari tubuh melalui ginjal.
Contoh : Hidroclortiazide (HCT) & Furosemide

·      Mengurangi cairan akan menurunkan jumlah darah yang masuk ke jantung sehingga  mengurangi beban kerja jantung.
·      Pemberian diuretik sering disertai dengan pemberian tambahan Kalium, karena diuretik tertentu menyebabkan hilangnya Kalium
6. Obat yang mempengaruhi sistem koagulasi darah
    Pembentukan trombus berlangsung melalui 3 tahap, yaitu :
1.   pemaparan darah pada suatu permukaan trombogenik vaskuler yang rusak.
2.   suatu rangkaian peristiwa terkait dengan trombosit.
3.   pengaktifan mekanisme pembekuan melalui peran penting trombin dalam pembentukan fibrin. Trombin sendiri merupakan suatu perangsang agregasi dan adhesi platelet yang sangat kuat.
    Macam obat sistem koagulasi darah
a.  Antikoagulan,
dibagi menjadi 2 yaitu : antikoagulan parenteral, contoh : Heparin dan antikoagulan oral, contoh : Warfarin
·      Antikoagulan oral mengantagonisasi efek vitamin K
·      Efek samping utama semua antikoagulan oral adalah pendarahan
b.Antiplatelet (antitrombosit)
bekerja dengan cara mengurangi agregasi (perlekatan ) platelet, sehingga dapat menghambat pembentukan trombus pada sirkulasi arteri, di mana trombi terbentuk melalui agregasi platelet dan antikoagulan menunjukkan efek yang kecil.
Contoh : Asetosal, Dipiridamol
c.  Fibrinolitik
bekerja sebagai trombolitik dengan cara mengaktifkan plasminogen untuk membentuk plasmin, yang lebih lanjut mendegradasi fibrin dan dengan demikian memecah trombus.
Contoh : streptokinase, urokinase, alteplase. Anti agregasi platelet
d.               Hemostatik dan antifibrinolitik
·      Defisiensi faktor pembekuan darah dapat menyebabkan pendarahan.
·      Pendarahan spontan timbul apabila aktivitas faktor pembekuan kurang dari 5% normal. Contoh obat : Asam traneksamat         

2.3    Obat anastesi lokal dan umum
     Anestetik lokal adalah obat yang menghambat hantaran saraf, bila obat tersebut diberikan pada jaringan saraf dengan kadar yang cukup.
1.   kokain
Indikasi : menghambat hantaran saraf bila digunakan secara lokal. Efek sistemik
yang paling menonjol terhadap SSP.

Efek :
·         Memblokade konduksi saraf, shg dulu sering digunakan pada ophtalmologi, namun diketahui menyebabkan terkelupasnya epitel kornea.
·         Memiliki efek adiksi (ketagihan) sehingga penggunaanya sekarang dibatasi secara topikal, khususnya untuk anestesi saluran nafas atas
2.   Lidokain
·         Dapat diberikan dengan atau tanpa epinefrin (kekuatan 0,5 – 5%)
·         Tanpa epinefrin, kecepatan absorpsi dan toksisitas bertambah, serta durasi lebih pendek.
·         Digunakan untuk anestesi lokal di permukaan tubuh atau gigi, atau untuk aritmia jantung.
Efek samping :
·         Berkaitan dengan efek terhadap SSP: mengantuk, pusing, gangguan mental, koma, seizures.
·         Dalam dosis berlebihan dapat menyebabkan kematian akibat vibrilasi ventrikel atau henti jantung.

Anastesi umum
1. Dinitrogen Monoksida (N2O, gas gelak/gas tertawa)
Indikasi                  : Anestesi inhalasi
Kontra indikasi      : -
Efek samping         : -
Sediaan                 : -
2. Enfluran
Indikasi                  : Anestesi inhalasi (untuk pasien yang tak tahan eter)
Kontra indikasi     : -
Efek samping       : Menekan pernafasan, gelisah dan mual
Sediaan                : -
3. Halotan
Indikasi                 : Anestesi inhalasi
Kontra indikasi     : -
Efek samping       : Menekan pernafasan, aritmia dan hipotensi
Sediaan                : -

4. Dropridol
Indikasi                   : Anestesi inhalasi
Kontra indikasi       : -
Efek samping          : -
Sediaan                   : -

5. Eter
Indikasi                   : Anestesi inhalasi
Kontra indikasi       : -
Efek samping          : Merangsang mukosa saluran pernafasan
Sediaan                   : -
6. Ketamin Hidrolorida
Indikasi                   : Anestesi inhalasi
Kontra indikasi       : -
Efek samping     : Menekan pernafasan (dosis tinggi), halusinasi dan tekanan darah naik
Sediaan                   : -
7. Tiopental
Indikasi                   : Anestesi injeksi pada pembedahan kecil seperti di mulut
Kontra indikasi       : Insufisiensi sirkulasi jantung dan hipertensi
Efek samping          : Menekan pernafasan
Sediaan                   : -




2.4     Obat Opioid
1.   Morfin
Indikasi
         Morfin dan opioid lain terutama diidentifikasikan untuk meredakan atau menghilangkan nyeri hebat yang tidak dapat diobati dengan analgesik non-opioid. Lebih hebat nyerinya makin besar dosis yang diperlukan. Morfin sering diperlukan untuk nyeri yang menyertai :
a.       Infark miokard
b.      Neoplasma
c.       Kolik renal atau kolik empedu
d.      Oklusi akut pembuluh darah perifer, pulmonal atau coroner
e.       Perikarditis akut, pleuritis dan pneumotorak spontan ; (6) Nyeri akibat trauma misalnya luka bakar, fraktur dan nyeri pasca bedah.                                       

2.   kodein
           Kodein merupakan analgesik agonis opioid. Efek kodein terjadi apabila kodein berikatan secara agonis dengan reseptor opioid di berbagai tempat di susunan saraf pusat. Efek analgesik kodein tergantung afinitas kodein terhadap reseptor opioid tersebut.Kodein dapat meningkatkan ambang rasa nyeri dan mengubah reaksi yang timbul di korteks serebri pada waktu persepsi nyeri diterima dari thalamus.Kodein juga merupakan antitusif yang bekerja pada susunan saraf pusat dengan menekan pusat batuk.

Indikasi : Antitusif, Analgesik

Kontraindikasi :Asma bronkial, emfisema paru-paru, trauma kepala, tekanan
intrakranial yang meninggi, alkoholisme akut, setelah operasi saluran empedu.






3.   Dexthromethorphan (DMP)

Indikasi: Meringankan batuk tidak berdahak / batuk kering atau yang menimbulkan rasa sakit

Kontraindikasi: Penderita yang hipersensitif (terhadap dextromethorphan), wanita hamil

4.   Metadon
adalah opiat sintetis yang kuat seperti heroin (putaw) atau morfin, yang bekerja long acting.
Efek samping :
Serigkali terjadi berkeringat dan sulit BAB , gangguan fungsi seksual , berkurangnya cairan saliva, gangguan pola tidur.


Kontra indikasi :
Semua golongan opioid kontra indikasi untuk : Akut abdomen, trauma kepala, kerusakan paru-paru berat -> tunda inisiasi metadon Gangguan hati yang berat (jaundice, ascites), hepato encephalopathi à turunkan dosis bila memulai terapi metadon Akut asma, akut alkoholisme












BAB III
PENUTUP


3.1    Kesimpulan
        
          Jadi, Bermacam-macam penyakit memerlukan obat yang berbeda-beda, begitu pila dengan obatnya selain mempunyai fungsi masing-masing obat  juga mempunyai efek sampingnya masing-masing, dan sebagai perawat kita semua harus bisa memahami tentang obat




3.2   .Kritik dan Saran
    
Selesainya makalah ini tidak terlepas dari banyaknya kekurangan-kekurangan pembahasannya dikarenakan oleh berbagai macam faktor keterbatasan waktu waktu, pemikiran dan pengetahuan kami yang terbatas, oleh karena itu untuk kesempernuan makalah ini kami sangat membutuhkan saran-saran dan masukan yang  bersifat membangun kepada semua pembaca.
Sebaiknya gunakanlah obat sesuai anjuran dokter, dan pergunakan lah obat tersebut sesuai dengan penyakit yang diderita , jangan menggunakan obat kurang atau melebihi batasnya

















DAFTAR PUSTAKA

Deglin, Vallerand, 2005, Pedoman Obat Untuk Perawat, Jakarta, EGC














Tidak ada komentar:

Poskan Komentar